Cukup Clik Mouse di tengah layar untuk mengetahui Sifat-sifat Allah SWT!

Monday, October 10, 2016

Memahami nama Allah dan menghitungnya, Islam, shalat, tarbiyah,bekam, pendidikan islami, keluarga sakinah, thibbun nabawi, hadis nabi, rukun islam, rukun iman, rukun shalat, al quran, kisah islami, asmaul husna, kisah para nabi, Allah SWT

Mengenal nama Allah adalah keutamaan besar bagi seorang hamba, dengannya hamba akan semakin mengenal penciptanya, dan semakin menimbulkan ketundukkan dan rasa khusyu' ketika mengingat-Nya, di sanalah tempat berlabuh hati yang dipenuhi kerinduan kepada Rabbnya, mereguk air kesejukkan dikala panas gersang membiaskan fatamorgana.

Kaidah kaidah seputar isim (nama) Allah.

Syeikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam kitabnya Qowa’id al mutsla menyebutkan tujuh kaidah seputar isim Allah, kita akan sebutkan secara ringkas yaitu :

Kaidah pertama : Nama nama (isim) Allah seluruhnya husna.

Husna artinya sampai kepada puncak kebagusan, Allah berfirman (Al A’raaf : 180) karena ia mengandung sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan padanya dari sisi manapun.

Contohnya Al Hayyu yang artinya Maha Hidup, ia adalah salah satu nama Allah yang mengandung makna kehidupan yang sempurna yang tidak didahului oleh ketidak adaan, dan tidak akan hancur selama lamanya, kehidupan yang mengharuskan kesempurnaan sifat berupa ilmu, kekuasaan, mendengar, melihat , dan sifat sifat lainnya.

Dan jika isim Allah itu digandengkan dengan isim lainnya, maka akan menghasilkan kesempurnaan diatas kesempurnaan, contohnya seperti Al ‘Aziz Al Hakiim seringkali Allah menggandengkan dua isim tersebut dalam al qur’an, Al Aziz artinya yang Maha Perkasa yang sempurna keperkasaannya, dan Al Hakiim artinya yang Maha mempunyai hikmah (bijaksana), namun bila dua nama tersebut digandengkan akan menimbulkan kesempurnaan lain yaitu bahwa keperkasaan Allah tidak menunjukkan kepada berbuat dzalim dan bertindak semena mena, akan tetapi dibarengi dengan hikmah yang agung dan kebijaksanaan yang sempurna, dan kebijaksanaan bila dibarengi keperkasaan akan sangat dahsyat pengaruhnya, berbeda dengan kebijaksanaan makhluk yang terkadang ditimpa kelemahan.

Kaidah kedua : semua nama Allah menunjukkan kepada ‘alam (tanda) dan sifat.

Tanda (‘alam) dari sisi penunjukkannya kepada Dzat dan sifat dari sisi penunjukkannya kepada makna maknanya.

atas dasar yang pertama maka semua nama Allah adalah sinonim karena menunjukkan kepada satu musamma (yang dinamai) yaitu Allah Azza wa Jalla seperti As Samii’ Al Bashiir, Ar Rahman, Al Hayyu, Al ‘Aziz, Al Hakiim semuanya adalah nama untuk satu dzat yaitu Allah.

Atas dasar yang kedua maka nama nama Allah berbeda dengan yang lainnya, dan setiap nama mempunyai makna yang husus untuknya, Al Hayy berbeda dengan Al ‘Aliim, Al ‘Aliim berbeda dengan Al Qadiir dan seterusnya.

Dari sini kita dapat mengetahui kesalahan kaum asy’ariyah yang hanya menetapkan 20 sifat bagi Allah, karena setiap nama Allah pasti menunjukkan kepada sifat, padahal mereka meyakini bahwa Allah mempunyai 99 nama, berarti ada sekitar 79 nama yang tidak mempunyai arti, misalnya Al Aziiz artinya yang mempunyai sifat izzah (perkasa lagi mulia) dan sifat ini tidak ada dalam 20 sifat yang mereka tetapkan sehingga konsekwensinya mereka menolak sifat ‘izzah bagi Allah dan seterusnya. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

Kaidah ketiga : nama nama Allah jika menunjukkan kepada sifat muta’addi (yang membutuhkan objek) maka mengandung tiga perkara : pertama, penetapan nama tersebut untuk Allah Azza wa Jalla. Kedua, penetapan sifat yang dikandung oleh nama tersebut. Ketiga, penetapan hukum dan konsekwensinya.

Seperti As Samii’ yang artinya Maha Mendengar, ia adalah nama Allah yang mengandung sifat mendengar dan kita tetapkan hukum dan konsekwensinya yaitu bahwa Allah mendengar segala sesuatu baik yang tersembunyi maupun yang terang terangan.

Sebuah contoh praktek, para ulama berdalil dengan firman Allah dalam surat Al Maidah : 34, untuk menggugurkan hukum hadd atas para penyamun bila mereka telah bertaubat sebelum sampai kepada Qadli, karena Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firman Nya “ Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, karena konsekwensi dua nama nama tersebut adalah bahwa Allah telah mengampuni dosa dosa mereka dan menyayanginya dengan menggugurkan hukum hadd atas mereka.

Adapun jika isim itu mengandung sifat yang tidak muta’addi (tidak membutuhkan objek) maka hanya menunjukkan kepada dua perkara : pertama, penetapan nama tersebut untuk Allah. Kedua, penetapan sifat yang dikandung oleh nama tersebut.

Kaidah keempat : penunjukkan nama nama Allah kepada dzat dan sifat Nya adalah dengan cara muthabaqah (kesesuaian), tadlommun (keterkandungan), dan iltizam (konsekwensi).

Contohnya Al Khaliq yang artinya Maha pencipta, secara muthabaqah ia menunjukkan kepada dzat Allah dan sifatnya yaitu menciptakan, secara tadlammun ia menunjukkan kepada dzat Allah saja dan kepada sifat menciptakan saja, dan secara iltizam maka ia menunjukkan kepada sifat ilmu dan kekuasaan karena menciptakan pasti harus dengan ilmu dan kemampuan sebagaimana firman Allah (ATH THALAQ : 12).

Kaidah kelima : nama nama Allah Ta’ala adalah tauqifiyah (harus sesuai dengan dalil).

Maka wajib memberikan nama bagi Allah sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Al qur’an dan sunnah, karena akal tidak mungkin mengetahui nama nama apa yang berhak bagi Allah, Allah berfirman (AL ISRA : 36).

Karena memberikan nama kepada Allah dengan apa yang Allah tidak namai diri Nya dengannya adalah sebuah kejahatan terhadap Allah Ta’ala, sehingga kewajiban kita adalah menjaga adab dan hanya mencukupkan diri dengan yang ditunjukkan oleh nash.

Kaidah keenam : nama nama Allah jumlahnya tidak terbatas dengan bilangan tertentu.

Hal ini berdasarkan hadits yang masyhur, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :

أَسْــأَلُكَ بِكُلِّ اسْــمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ يِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ (رواه أحمد وابن حبان والحاكم وهو صحيح )

“Aku memohon kepada Mu dengan seluruh nama Mu yang Engkau namai diri Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab Mu atau yang Engkau ajarkan pada salah seorang dari hamba Mu atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib disisi Mu... (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban dan Al Hakim, dan ia adalah hadits shahih).

Dan apa apa yang Allah sembunyikan dalam ilmu ghaib tidak mungkin seorangpun dapat menghitungnya tidak pula meliputinya. Adapun sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّة َ(رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan seratus kurang satu nama, barang siapa yang menghitungnya maka ia akan masuk syurga “. (Bukhari dan Muslim).

Makna hadits ini adalah bahwa jumlah tersebut yang dianjurkan untuk dihitung, dimana orang yang menghitungnya akan masuk syurga, sehingga kalimat “ Barang siapa yang menghitungnya…dst berfungsi sebagai penyempurna kalimat sebelumnya dan tidak berdiri sendiri, hal ini sama dengan perkataanmu : saya mempunyai seratus dirham yang aku persiapkan untuk dishodaqohkan, maka tidak menghalangi jika engkau mempunyai dirham dirham lain yang tidak disediakan untuk shodaqoh.

Kaidah ketujuh : penyimpangan terhadap nama nama Allah ada beberapa macam yaitu

Pertama : Mengingkari salah satu nama Allah dan sifat serta hukum yang ditunjukkan oleh nama tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Jahmiyah dan lainnya.

Kedua : menjadikan nama nama tersebut menunjukkan kepada sifat yang meyerupai sifat makhluk sebagaimana yang dilakukan oleh ahli tasybih.

Ketiga : Memberikan nama untuk Allah dengan nama yang Allah tidak pernah namai dirinya dengannya seperti orang Nashrani menamai Allah dengan bapak dan lainnya.

Keempat : mengambil nama nama Allah untuk berhala, seperti patung Al ‘Uzza dari Al ‘Aziz, Allaat dari al ilaah atas salah satu pendapat dari ahli tafsir.

Keutamaan menghitung nama Allah.

Telah disebutkan tadi hadits yang menyebutkan keutamaan menghitung nama Allah, yaitu bahwa orang yang menghitungnya maka ia akan masuk surga. Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّة َ(رواه البخاري ومسلم)

“Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan seratus kurang satu nama, barang siapa yang menghitungnya maka ia akan masuk syurga “. (Bukhari dan Muslim)

Apa yang dimaksud dengan menghitungnya ?

Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya, imam Al Bukhari berpendapat bahwa maknanya adalah menghafalnya, dan dikuatkan oleh imam Nawawi rahimahullah. Berkata ibnu ‘Athiyah :” yaitu menghitung dan menghafalnya yang mengandung beriman kepadanya, mengagungkannya, dan mengambil pelajaran dari makna maknanya “.

Berkata Al Ashili :” Bukanlah yang dimaksud menghitungnya saja, karena orang fajirpun dapat menghitungnya, namun yang dimaksud adalah mengamalkannya “.

Berkata Abu Nua’im Al Ashbahani :” Bukanlah maksud hadits tersebut hanya menghitungnya saja, akan tetapi maksudnya adalah mengamalkannya, memahami makna maknanya dan mengimaninya “.

Berkata Abu umar Ath Tholamanki :”diantara kesempurnaan mengenal nama nama Allah dan sifatNya adalah mengenal nama nama dan sifat sifat dan faidah faidah yang terkandung di dalamnya, juga hakikat hakikat yang ditunjukkan olehnya… “.

Berkata Abul ‘Abbas bin Mu’id :” al ihsha (menghitung) ada dua makna : pertama, mencarinya dalam al qur’an dan sunnah, kedua adalah menghafalnya setelah ia menghitungnya… dan al ihsha mempunyai makna makna lain, diantaranya adalah ihsha fiqhi yaitu mengetahui makna maknanya dari bahasa dan menjabarkannya sesuai dengan sisi yang ditunjukkan oleh syari’at.

Diantara maknanya juga ihsha nadzori yaitu mengetahui makna setiap nama dilihat dari sighoh (redaksinya) lalu berdalil dengannya pada pengaruh yang terjadi di alam semesta, sehingga tidaklah engkau melewati suatu makhluk pun kecuali tampak padanya makna dari makna makna nama Allah Ta’ala dan mengenal kehususan sebagiannya, tempat pengikatannya dan penunjukkan setiap nama, dan ini adalah martabat ihsha yang paling tinggi.

Kesempurnaannya adalah menghadap kepada Allah dengan cara mengamalkan secara dzahir dan bathin apa yang ditunjukkan oleh setiap nama dari nama nama Allah, lalu ia beribadah kepada Allah dengan apa yang berhak untukNya dari sifat sifatnya yang suci… maka barang siapa yang telah menghasilkan martabat martabat ini maka ia telah sampai pada puncaknya, dan barang siapa yang diberikan salah satunya maka pahalanya sesuai dengan apa yang ia raih.

Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa ihsha mempunyai tiga martabat :

pertama adalah mengihsha lafadz lafadz dan jumlahnya.

Kedua adalah memahami makna makna dan yang ditunjukkan olehnya.

Ketiga yaitu berdo’a dengannya. Dan ia mempunyai dua martabat, pertama adalah do’a pujian dan ibadah. Dan kedua adalah do’a permintaan dan permohonan.

Maka tidak boleh memuji kecuali dengan asmaul husna dan sifatNya yang tinggi, dan tidak boleh memohon kecuali dengan namaNya, tidak boleh kita berkata : wahai yang ada (maujud), atau wahai dzat dan seterusnya, akan tetapi memohon dengan nama yang sesuai dengan permintaannya, sehingga yang meminta telah bertawassul dengan nama Allah Ta’ala. Barang siapa yang memperhatikan doa para rosul, ia akan mendapati sesuai dengan kaidah ini.

Dan ungkapan ini lebih baik dari ungkapan orang yang berkata : kita berakhlak dengan asmaul husna, karena ia adalah ungkapan yang tidak tepat yang diambil dari ahli filsafat, dan yang lebih bagus lagi adalah ungkapan : beribadah dengannya, dan yang lebih bagus lagi adalah ungkapan yang sesuai dengan ungkapan Al Qur’an yaitu berdo’a dengannya yang mengandung beribadah dan memohon “.

Menghitung nama Allah adalah pokok segala ilmu.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengulas :” ihsha (menghitung) asmaul husna dan berilmu tentangnya adalah pokok untuk mengetahui segala sesuatu yang dipelajari, karena sesuatu yang dipelajari itu dapat berupa makhluk Allah atau perintah, dan dapat pula berupa ilmu tentang apa yang Allah ciptakan atau ilmu tentang apa yang Allah syari’atkan.

Dan tempat munculnya penciptaan dan perintah adalah asmaul husna yang keduanya berhubungan dengan asmaul husna sebagaimana hubungan objek dengan subjeknya, maka perintah semuanya berasal dari asmaul husna, dan ini semuanya adalah baik, tidak keluar dari rel kemashlahatan hamba, kasih sayang dan berbuat ihsan kepada mereka, dengan cara mereka menyempurnakan perintah dan laranganNya.

Jadi semua perintahNya adalah mashlahat, hikmah, rahmat, dan berbuat ihsan, karena asalnya adalah asmaul husna. Semua perbuatannya juga tidak lepas dari keadilan, hikmah, mashlahat dan rahmat, karena asalnya adalah asmaul husna. Maka tidak ada perbedaan dalam makhlukNya tidak pula kesia siaan, karena Allah tidak menciptakan makhluk secara sia sia.

Sebagaimana segala sesuatu yang ada selain Allah adalah ciptaanNya, maka keberadaan selain Allah mengikuti keberadaanNya, sebagaimana makhluk mengikuti Khaliqnya…

Jadi ilmu tentang asmaul husna dan menghitungnya adalah pokok seluruh ilmu, maka barang siapa yang mengihsha (menghitung) nama namaNya sesuai yang layak bagi seorang makhluk, maka berarti ia telah mengihsha seluruh ilmu, karena mengihsha nama namaNya adalah pokok seluruh pengetahuan, dan karena semua yang dipelajari adalah konsekwensi dan hubungannya.

Perhatikanlah ! bahwa munculnya makhluk dan perintahNya adalah dari ilmu dan hikmahNya, oleh karena itu engkau tidak akan mendapatkan padanya aib dan kekurangan, karena kekurangan yang terjadi pada perintah dan perbuatan hamba bisa jadi karena kebodohannya atau tidak mempunyai hikmah, adapun Rabb Ta’ala adalah Maha Mengetahui dan Maha Hikmah (bijaksana) sehingga perintah dan perbuatanNya tidak akan ditimpa oleh kekurangan “.

Ibnu Utsaimin, Al Qowa’id al mutsla 9-26.

Karena nama nama Allah itu ada yang berasal dari kata kerja yang membutuhkan objek seperti mendengar, melihat dan seterusnya, dan ada yang berasal dari kata kerja yang tidak membutuhkan objek seperti perkasa, agung dan lainnya.

Bagian dari hadits Ibnu Mas’ud yang dikeluarkan oleh Ahmad (1/394, 452), ibnu Hibban (2372-mawarid) Al Hakim dalam Al Mustadrak (1/519) dan yang lainnya. Dishshihkan oleh ibnu Qayyim dalam syifaul ‘alil hal. 274, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad (3712), dan Syaikh Al Bani dalam silsilah shahihah (199).

Shahih Bukhari kitab da’awat bab lillahi miatu ismin ghairu wahid (6410), dan Muslim dalam shahihnya kitab dzikir dan do’a, bab fii amaaillahi ta’ala wa fadllu man ahshoha (2677), dari hadits Abu Hurairah.

Lihat pula fathul bari 11/220, Al Hafidz menukil perkataan imam Nawawi bahwa ini adalah kesepakatan seluruh ulama.

An nawawi, syarah shahih muslim 17/5.

fathul bari 11/226.

Ibnu Qayyim, bada’iul fawaid 1/ 288-289.

Ibnu Qayyim, bada’iul fawaid 1/286-287.

(Sumber: Ust. Abu Yahya Badrusalam)